Cool Blue Outer Glow Pointer

Ads 468x60px

Labels

Senin, 16 Juni 2008

Apa yang Terjadi ketika Kita Membunyikan Ruas Jari?

Ketika membunyikan ruas jari menghasilkan suara gemeletuk akibat gelembung cairan . Sendi di seluruh tubuh dikelilingi oleh cairan sinovial yaitu cairan bening dan kental. Ketika kita membunyikan ruas jari, tulang-tulang yang bertemu di persendian saling tertarik sehingga jaringan penghubung saling meregang, volume meningkat, tekanan turun, gelembung-gelembung terbentuk dan ketika gelembung-gelembung itu pecah akan menghasilkan suara gemeletuk. Dibutuhkan waktu 5-10 menit agar gas bisa terlarut kembali dalam cairan sendi, selama fase ini jari-jari tidak bisa dibunyikan lagi.Menurut Anatomy and Phsycology Instruktor Cooperative (Perkumpulan Instruksi Anatomi dan Psikologi) hanya ada satu penelitian mendalam yang dipublikasikan mengenai bahaya seringnya membunyikan ruas jari.. Penelitian dilakukan oleh Raymond Brodeur dan dipublikasikan dalam Journal of Manipulative and Phsychological Therapeutics yang meneliti 300 orang yang senang membunyikan jari tangan untuk mencari kerusakan sendi. Hasilnya secara umum adalah terjadi kerusakan sendi jika terlalu sering membunyikan ruas jari. Tidak ada hubungan secara nyata antara pematahan sendi dengan rematik. Tetapi kebiasaan membunyikan ruas jari tangan akan memperlihatkan tanda-tanda beberapa kerusakan lain, termasuk kerusakan pada jaringan lunak pada kapsul sendi, penurunan kekuatan menggenggam dan peningkatan pembengkakan tangan. Kerusakan ini besar kemungkinan disebabkan oleh peregangan ligamen yang cepat dan berulang-ulang di sekitar sendi.
Sisi positifnya, ada bukti yang menyatakan bahwa peningkatan mobilitas dalam sendi setelah digeletukkan otot sekitar sendi menjadi rileks (tidak tegang ). Selain jari tangan, tulang punggung, lutut, siku, sendi lain yang dapat bergerak mampu menghasilkan suara gemeletuk.

Sumber: Marshal Brain, What if..(Intriguing Answers for the Insatiably Curious). Wiley Publishing,Inc
edisi Indonesia (Bagaimana Seandainya). Bandung Pakar Raya. hal 128-29

0 komentar:

Posting Komentar

tanggapan anda :