Cool Blue Outer Glow Pointer

Ads 468x60px

Labels

Senin, 21 Januari 2013

Hujan Lagi, Hujan Lagi


Bulan Januari yang kerap dijuluki masyarakat Jawa sebagai ‘hujan sehari-hari’, terbukti tidak sepenuhnya salah. Coba tengoklah sekitar, mungkin saat sedang membaca tulisan ini di tempat kalian sedang hujan deras, sedang gerimis, atau mungkin mendung, jalanan yang basah, sungai meluap, banjir atau mungkin matahari bersinar cerah usai hujan deras.

Bulan Januari di Indonesia masih terhitung sebagai musim penghujan. Hampir setiap hari, hujan senantiasa menemani aktivitas masyarakat dari Sabang sampai Merauke. Tak terhitung betapa banyaknya air yang menguap dan jatuh ke bumi Indonesia. 

“Dan dari langit Kami turunkan air yang memberi berkah, lalu Kami tumbuhkan dengan (air) itu pepohonan rindang dan biji-bijian yang dapat dipanen” (QS. Qaf : 9)

Demikian Firman Allah Azza Wa Jalla, sudah pasti dan tidak bisa dipungkiri, hujan merupakan rahmat Allah yang membawa keberkahan, membawa kebermanfaatan bagi setiap umat-Nya. Tetapi ironisnya, tak terhitung pula keluhan-keluhan yang dilontarkan sebagian orang. Berkaca pada diri sendiri, contohnya saja ketika mahasiswa hendak pergi ke kampus. Dan tiba-tiba hujan turun. Sudahlah, semangat yang tadinya membara tiba-tiba hangus hanya karena hujan deras, mengomel tak jelas. Benar begitu? Na’udzubillahi min dzalik.


Padahal, kalau kita telisik lagi. Memang apa salahnya hujan? Bukankah sudah menjadi Sunatullah, hujan dan panas, laki-laki dan perempuan, panas dan dingin, cinta dan benci *ehh. Kenapa sampai sekarang di usia yang seharusnya menginjak kematangan ukhrowi kita belum faham?Alangkah lebih bijaksananya lagi kalau kita renungkan berbagai manfaat dari hujan. “Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi keduanya dahulu menyatu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya; dan kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air; maka mengapa mereka tidak beriman?”. Ya, karena airlah yang membantu keberlangsungan hidup makhluk Allah (hewan, tumbuhan, dan manusia).Bagaimana dengan keluhan-keluhan ini? “Arrghh, ujan lagi!”, “Aduh, nanti bajuku basah”, “Aduhh, jangan ujan dulu..” sepertinya sudah menjadi kebiasaan orang yang secara tak sadar sedang memalingkan diri atas keberkahan yang Allah berikan.

Hmm, daripada mengomel tidak jelas. Yuk, mulai saat ini kita tuntun ucapan kita agar mengundang kebaikan. Mulai dari hal kecil, mulai dari diri kita sendiri, dan mulai dari sekarang (Aa Gym). Ibnu Qudamah dalam Al Mughni meriwayatkan Rasulullah SAW sang Qudwah Hasanah kita bersabda, “Carilah do’a yang mustajab pada tiga keadaan : (1) bertemunya dua pasukan (2) menjelang shalat dilaksanakan, dan (3) saat hujan turun”. Subhanallah, ternyata ketika turun hujan merupakan kesempatan terbaik dalam memanjatkan do’a. Selain itu, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhuberkata Nabi Muhammad SAW ketika melihat turunnya hujan, beliau berucap, “Allahumma sayyiban nafi’an” (Ya Allah turunkanlah kepada kami hujan yang bermanfaat). Do’a yang indah bukan? Ditambah lagi do’a ketika selesai turun hujan “Muthirna bi fadhlillahi wa rahmatih” (Kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah).


Nah, mumpung masih dalam musim hujan nih, yuk kita amalkan do’a-do’a tersebut dalam keseharian. Senantiasa sama-sama mengingatkan dalam kebaikandimulai pada saat ini dan berlangsung seterusnya. Semoga Allah selalu merahmati kita semua. Aamiin J (FNR, 2013)

0 komentar:

Posting Komentar

tanggapan anda :